>
Tampilkan postingan dengan label FlashFiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FlashFiction. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2019

[Antologi Fiksimini] Dandelion's Love dan Kisah Lainnya

Judul                       : Dandelion's Love dan Kisah Lainnya
Jenis Buku             : kumpulan Fiksimini
Jumlah Halaman  : 68 halaman
Penerbit                  : Penerbit Intishar
Tahun Terbit         : 2018
ISBN                       :9786025909962
Pengarang             : Arief Mulyanto

"Kelak, taburkanlah abuku di padang dandelion ini. Biarkan aku terbang bersama angin dan dandelion-dandelion yang lain. Karena akulah ratu di padang dandelion ini."

John terkekeh pelan dan berkata, "Kau tak serius kan?"
Kutipan fiksi mini Dandelion's Love
Ini adalah kumpulan kisah yang dirangkai dalam bentuk fiksi mini, tentang cinta, mimpi, dan kehilangan. Seperti layaknya kehidupan kita. Buku ini berisi 23 fiksi mini dengan kisah penuh warna. Bacalah dan temukan setiap kisah yang mewakili kehidupan setiap insan.




Untuk trailer bukunya bisa dilihat dibawah ini:


Minggu, 23 November 2014

Pernikahanmu




Hari ini adalah hari yang sangat-sangat kau tunggu. Pertama dan terakhir adalah apa yang muncul dalam benakmu. Tentu saja kamu juga ingin mengaplikasikannya dalam kehidupanmu ke depan. Kau akan meminimalisir segala pikiran negatifmu pada pasanganmu dan kau juga berharap sama pada pasanganmu. Semua doa yang tercurah hanya untuk kebahagianmu. Kebahagiaan abadi untuk pernikahanmu.

Kau mematut diri di cermin, refleksimu memantulkan aura positif. Bunga-bunga seolah bermekaran di taman hatimu, pun burung-burung tak mau kalah, bernyanyi menjadi saksi pernikahan kalian.

“Kalian adalah pasangan yang serasi,” itulah yang akan dikatakan padamu, andai saja burung-burung itu bisa berbicara.

Lelakimu berjalan dari kejauhan dan mencuri-curi pandang padamu. Kau cuek. Sosok itu menghampirimu dan menggamit jemarimu. Sontak saja, alat make up yang kau gunakan terjatuh. Kau terkejut bukan kepalang. Terlalu awal bertemu pikirmu. Kau tak peduli lagi. Kau hanya ingin menikmatinya saja, menikmati berjalan ke altar dengan pria idamanmu.

Kini kau sudah tak sabar lagi saat menunggu momen yang sangat kau tunggu cukup lama. Saat bibirmu saling bertemu dan cinta dan nafsumu pun menjadi sah.



*FF 169 kata ini ditulis untuk tantangan dari @KampusFiksi #FFOrangKedua, ditulis menggunakan sudut pandang orang kedua.

Kamis, 30 Oktober 2014

Bloody Love

“Aku puas! Kini kau bersamaku,” katanya sambil menyeringai.

Lelaki itu kini tertawa penuh kemenangan. Ya. Dia baru saja memenangkan sesuatu. Perebutan tak langsung yang telah bertahun-tahun terjadi. Lelaki itu telah memujanya dan sangat ingin memilikinya. Sebelumnya di masa lampau dia selalu mencuri-curi pandang, kadang menguntitnya. Dia begitu memuja dan mencintainya. Tak sekedar itu, kejutan-kejutan kecil pun sering diberikannya. Terkadang menaruh bunga di depan pintunya, atau menulis kata-kata puitis tentang pujaannya di atas selembar kertas warna-warni. Tapi tak ada tanggapan, sering kali lelaki itu akan menunggu sampai si empunya rumah keluar dan mengambil brang-barang tersebut. Nihil. Tak ada satu pun barang yang diambil bersamanya, semuanya langsung masuk ke dalam tong sampah.

Aku akan memberimu pelajaran untuk semua kesombonganmu!, tekadnya dalam hati. Mulai sejak  itu dia tak pernah lagi mengirimkan barang. Barang-barang yang selalu datang dari pemujanya yang lainnya dengan cekatan lelaki itu singkirkan hingga pujaannya tak harus marah-marah ketika melihat itu semua. Berbulan-bulan tak ada yang mengganggu kehidupan pujaannya. Lelaki itu  merasa senang karena bisa melihatnya dengan dekat. Rasa ingin memilikinya tak kunjung padam. Lelaki itu telah menyamar untuk bisa memasuki rumah pujaannya dengan langsung dan menghilangkan jejak tentang dirinya. Pujaannya sejatinya telah mengenal lelaki itu dengan baik, bahkan membencinya setengah mati. Kebencian itu membuat lelaki itu meradang dan ingin menghabisinya saja.

“Kita sama-sama hina karena kau juga mempunyai hasrat yang sama. Kau bersandiwara menutupinya di depan cewek-cewek. Apa salahnya jika aku mengungkapkan perasaanku?” ucap lelaki itu sambil menyilet wajah pria yang dipujanya.

“Hentikan ini,” pinta pria itu. “Aku akan menuruti permintaanmu.” Kata-kata itu keluar dengan nada ketakutan dan kesedihan.


“Kau hanya perlu menjawab iya atau tidak, tak perlu menghinaku,” jelas lelaki itu sambil membuang silet dari tangan kirinya dan melumat bibirnya. Tangan kanannya mengambil sebuah pisau tajam dari balik baju tukang kebunnya, kemudian menusuk pria itu dan lalu dirinya sendiri.

*diikutsertakan dalam Flash Fiction Pipet.

Rabu, 11 Juni 2014

Last Words

Kau selalu berkata padaku bahwa sesuatu akan begitu terasa saat kita telah tak lagi memilikinya. Rasa getirnya berlipat-lipat saat semuanya telah hilang. Begitu juga apa yang aku rasakan. Andai saja aku tahu semua itu akan aku luangkan banyak waktu untukmu. Tak akan pernah aku izinkan sedetik pun tanpa terlewat denganmu.
Tapi kini semuanya terlambat, sebanyak apapun air mata yang kuteteskan dan sekeras apapun aku meminta tak akan pernah berubah. Semuanya tak akan pernah kembali. Di sini di atas pusaramu, aku tertunduk lesu mengenang semua yang pernah kita lalui bersama. Aku kehilangan teman, sahabat dan kekasih yang tak akan pernah kutemui lagi.
Aku tahu semuanya takdir Tuhan. Aku masih mengingat kata terakhirmu di sela-sela napas terakhirmu dalam keterbatasan kata yang kau ucapakan aku masih bisa mendengar dengan jelas. "Kau harus meneruskan hidupmu, temukan cinta barumu, dan kita akan bertemu kelak di surga." Kata-katamu itu akan selalu kuingat.

Flash fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku,com di facebook dan twitter @nulisbuku

My Choice

“Kau masih ragu dengan semua yang telah kita lalui bersama, Evan?” tanya Angela pelan. Evan menggelengkan kepala. Tangannya mengenggam tangan Angela dengan kuat. Aku ingin berkata tidak namun aku tak mampu. Sampai kapan aku akan memendamnya? batin Evan.
“Sudahlah, bukankah kita di sini untuk menikmati bulan madu kedua kita, merilekskan semua syaraf di tubuh kita dan sejenak melupakan beban hidup yang ada?” kata-kata yang terlempar dari mulut Evan diikuti dengan senyuman manis yang akan menarik semua wanita yang melihatnya.
Semilir angin pantai menyapa tubuh kedua insan ini. Usia pernikahan yang telah berjalan cukup lama ini tak juga menghilangkankeraguan yang telah lama bercokol di benak Evan. Pun keberadaan Josephine—buah ati Evan dan Angela tak mampu menghapus keraguan dan rasa cinta yang telah lama bersemayam. Keraguan Evan atas kehidupan rumah tangganya dengan Angela dan juga rasa cinta yang datang terlebih dahulu tinggal. Bagi Evan, cinta ini begitu dalam bercokol dan telah mengakar sampai dasar hatinya.
“Sayang, ada yang aku ingin bicarakan,” ucap Evan dengan nada penuh ketakutan.
“Kau baik-baik saja? Kau sakit?” Seketika saja Angela menjadi khawatir melihat gelagat tidak wajar suaminya.
“Tidak. Aku hanya ingin jujur kepadamu ada sesuatu yang sangat penting untuk kukatakan. Demi hubungan kita, demi anak kita.”
Angela tampak semakin bingung.
“Kau tahu Albert, Sayang?”
“Iya, ada apa?”
“Mungkin ini terdengar sangat bodoh dan tidak masuk akal,” Evan mengambil napas dalam, “aku menyukainya, mencintainya sejak dulu, sebelum ada kamu….”
Angela tersentak mendengar penjelasan Evan, air mata mulai mengalir di pipi putihnya.
“Dasar bajingan! Teganya kau membohongiku!!!” maki Angela sambil terisak.
“Kau boleh memakiku semaumu, tapi ini pilihanku untuk jujur padamu dan pada diriku sendiri.”
***
Flash fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku,com di facebook dan twitter @nulisbuku


Jumat, 04 April 2014

Transaksi

"Kau datang juga...," kataku bersemangat.
"Apa yang enggak sih buat kamu," ucap gadis berlesung pipit itu.
"Kau tampak selalu memukau!" pekikku.
"Bisa saja kau ini," katanya malu-malu sambil menyingkirkan rambut panjangnya yang tak diikatnya. Gadis itu kini tersenyum sambil menatap pemuda yang berdiri di depannya, ditaruhnya kedua tangan di depan dada.
"Bisa kita langsung saja, Mas?" tanyanya tak sabar.
"Kenapa? Kau sudah ingin merasakannya?" Gadis itu tak menjawab. Seulas senyum dipaksakan terbit di wajahnya yang tampak tak yakin. Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Malam belum larut.
Kenapa dia begitu tergesa-gesa tak seperti biasanya, batinku.
Tangannya kini sudah bergelirya menelusuri bagian atas tubuhku. Sesekali kuubah posisi dudukku sebagai isyarat bahwa aku tak suka.
 "Sebaiknya kita masuk ke kamar tak enak dilihat orang lewat."

Dia mengganguk dan mengikutiku masuk kamar. Kamar pun langsung gelap.

Sabtu, 29 Maret 2014

[FlashFiction] Surat Untuk Calon Presiden

Kepada Yth.
Bapak/Ibu Calon Presiden
Bapak/Ibu yang terhormat sebelumnya perkenalkan saya seorang rakyat biasa yang mendedikasikan hidup saya pada dunia pendidikan. Tujuan saya menulis surat ini karena saya yakin kalau saya tidak mungkin bisa bertemu dengan Bapak/Ibu secara langsung karena saya tidak memenangkan medali satu pun yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Sebagai seorang guru saya mempunyai banyak unek-unek yang ingin saya sampaikan kepada Bapak/Ibu. Saya berharap dalam masa kepemimpinan Bapak/Ibu sebagai presiden, Bapak/Ibu bisa memilih menteri pendidikan yang pernah mengenyam pendidikan di LPTK agar bisa mengerti kondisi real kami atau orang yang benar-benar mengerti dunia pendidikan,  agar tidak menghasilkan kebijakan yang labil. Bapak/Ibu saya mewakili rekan-rekan juga berharap bahwa pemerintah benar-benar menghargai guru dengan cara pemberian gaji yang layak. Jika ada yang berkata guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, bukan berarti bahwa guru akan kenyang dengan pahala saja.
Bapak/Ibu pasti tahu untuk menjadi guru itu harus kuliah S1 dan itu tidak murah, kami hanya ingin penghargaan sesuai dengan kualifikasi kami. Bapak/Ibu mungkin dulu pernah diajar oleh guru di sekolah yang sampai usia tuanya mereka masih belum punya status yang bisa menjamin kehidupannya kelak. Bapak/Ibu kalau tak ada guru yang mengajar di sekolah tak akan ada profesi lain, termasuk presiden. Maka saya berharap di masa Bapak/Ibu pendidikan Indonesia akan semakin maju.

Terima kasih.

[FlashFiction] SkyLove


“Sayang, kau baik-baik saja kan di sana?”
“Aku baik-baik saja. Suaraku pasti terdengar ceria seperti biasa.”
“Iya, Sayang, tapi ini sinyal telponnya lagi jelek,” ucap Amy melalui sambungan telpon. Wajahnya memberengut.
“Kau belum ngantuk?”
“Belum,” jawab Amy singkat.
“Seperti yang pernah kau katakan, jarak tak kan pernah memisahkan hati yang saling terikat, aku merasa dekat denganmu.”
“Sudahlah Dan. Kau tidak perlu berkata seperti itu. Ini pilihanku. Aku pun tak bisa melarangmu untuk meraih mimpimu kuliah di Paris.” Suara Amy terdengar sedikit bergetar. Ada sebuah keraguan di balik kata-katanya. Tapi ada juga keyakinan di dalamnya.
“Bisakah kita lanjutkan ke skype? Aku kangen…,” rengek Amy.
“Okay.”
Amy menatap lurus-lurus wajah yang kini muncul di layar laptopnya, tepatnya di aplikasi skype. Sesekali Amy mengusapkan tangannya ke layar. Seolah menyentuh wajah itu. Wajah yang selama ini selalu dilihatnya di layar laptop setiap dini hari karena perbedaan waktu enam jam.
Danu tersenyum dari kamar apartemennya di Paris. Percakapan malam itu pun mengalir dengan asyiknya. Malam semakin larut kantuk pun menguasai Amy. Dengan berat hati Amy pun harus mengakhiri skype-an mereka.
***
“Dan, apa yang kau perbuat di sana?” tanya Amy dengan nada marah, sambil menempelkan ponselnya ke pipi lekat-lekat.
“Apa maksudmu, My?”
“Jujur saja apa yang kau lakukan. Kau tak perlu berbohong!!”
“Aku bener-bener gak ngerti. Bisakah kita lanjutkan nanti malam saja? Maksutku nanti malam waktu Indonesia.”
“Aku gak peduli kalau kau ada kelas saat ini. kau hanya perlu menjelaskan semua foto-foto di akun instagram-mu.”
Danu menghela nafas, sudah saatnya dia jujur pada Amy bahwa semua foto itu nyata adanya. Kemesraan itu tak dibuat-buat sama sekali.
“Amy, aku rasa cinta yang kita ini sekarang hanya sebatas Skylove. Kita hanya bisa bermesraan lewat skype dan telpon. Aku butuh sesuatu yang nyata. Perhatian dan kasih sayang yang ada wujudnya.”
Hati Amy begitu hancur mendengar semua ini. Kepercayaan, ketulusan dan penantiannya tak ada artinya semua berakhir begitu saja.

“Amy… Amy, kau masih di sana?”

[FlashFiction] Menantimu

“Temui aku di sini, jika kau beruntung kau akan menemuiku lagi,” bisiknya di telingaku saat itu.
Kenapa harus di sini? Di satu-satunya gereja yang ada di desaku ini? Aku tak suka ketika kau mulai berteka-teki. Ya, aku merasa tak sanggup tenggelam dalam rasa penasaranku.

 Aku masih menunggumu di sini, sebagaimana yang kau janjikan padaku. Aku tak peduli yang mereka pikirkan tentangku, pandangan miringnya atau apalah itu aku tak akan pusing dibuatnya. Entah sudah kali keberapa aku ke sini, dengan pakaian yang sama seperti yang kau inginkan-- serbaputih. Saking seringnya hingga aku lupa hitungan persisnya. Perempatan jalan ini masih sama, tak ada yang berubah sedikit pun, sama seperti saat kita bertemu dulu. Jika kau melintas di jalan ini atau jika kau mengingatku, datanglah ke gereja. Tapi semua itu tak akan pernah jadi nyata. Kita akan bertemu kelak, di sana.

Senin, 24 Februari 2014

#FiksiLaguku

Semuanya tampak sama. Hitam. Gelap. Kurasakan pengap yang mulai menyeruak di ruangan ini. Pembaringan yang sempit ini sangat membatasi ruang gerakku. Di luar sana kudengar suara sesungukan yang samar karena aku pun tak bisa mendengar dengan jelas, ada sesuatu di telingaku yang menghalanginya. Dingin mulai menjalar di sekujur tubuhku, tapi tak tahu apa penyebabnya.
Kurasakan  Jenny tengah merapikan setelan kemejaku, kemeja yang harusnya dipakai di hari pernikahan kami. Aku ingin bangkit, tapi aku tak bisa, tubuhku terasa sangat kuyu dan layu yang lama-kelamaan menjadi kaku. Jenny mendekat menyentuh tanganku, kurasakan hangat tubuhnya, energi kehidupan menyentakkan. “Sampai jumpa di neraka, aku akan menyusulmu setelah aku menghabiskan semua hartamu, Sayang.” Untuk kali ini aku bisa mendengar utuh bisikan Jenny, bukan sebuah doa. Petiku pun ditutup.


*Cerita ini terinspirasi dari lagu The Prayer yang dipopulerkan oleh Andrea Bocelli dan Celine Dion.

Sabtu, 22 Februari 2014

{ #FiksiLaguku}


Aku masih di sini, menunggumu dengan setia.  Aku masih mencium kuat bau keringat yang bercampur parfummu. Meski angin bertiup dengan kencangnya, dia tak mampu menerbangkan baumu. Mungkin hidungku saja yang bermasalah hingga  tak mampu membau yang lain selain bau itu.

Kau masih ingat? Di sini kita pernah merangkai kenangan menyulam canda  tawa, mengukir senyum di wajah kita. Kau masih ingat rangkaian kata-kata manis yang kautulis di atas pasir pantai yang tak seputih kulitmu? Meski kata-kata itu tak bertahan lama dan segera digulung ombak menuju luasnya samudra aku tak pernah berharap kalau kau akan seperti itu. Aku masih di sini berdiri setegar batu karang meski tubuhku tak seatletis  selingkuhanmu. Tapi yang perlu kau tahu perasaanku—rasa cintaku tak kan pernah surut seperti air laut.

*Cerita ini terinspirasi dari lagunya Lisa Halim yang berjudul Daddy. Ditulis untuk tantangan fiksi 123 kata oleh @KampusFiksi