>
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Agustus 2019

[Antologi Cerpen] Padang Patah Hati


“Aku datang lagi. Dan akan selalu datang.” Agatha menghela napas panjang dan melanjutkan pembicaraannya, “Aku selalu berharap kita tidak akan pernah terpisah. Melewati hari-hari bersama dan menghabiskan sore di padang jatuh cinta. Ya, itu adalah nama yang kau berikan untuk padang itu. Tapi kini aku merubahnya menjadi padang patah hati. Aku sangat mencintaimu dan sangat merindukanmu.” Butiran bening mengalir dari mata sayunya. Tangisannya pecah bersama tenggelamnya matahari.
            

Agatha yakin jika suatu saat nanti ia akan bertemu lagi dengan kekasihnya. Seperti kata-kata yang selalu menggema di kepalanya. Ia terus menunggu. Sebuah penantian tak berujung seorang gadis yang mencintai kekasihnya dengan sepenuh hati. Lalu, mungkinkah Agatha bisa bertemu dengan kekasihnya lagi?
Akhir yang tak terduga dihadirkan oleh Arief Mulyanto, penulis cerpen terbaik dalam antologi Kelas Menulis SIP Publishing Angkatan 7, masih ada banyak kisah-kisah menarik lainnya dalam antologi ini yang menunggu untuk dibaca.

Senin, 27 Oktober 2014

Unwanted Meeting

[Diikutkan dalam  lomba cerpen FANGIRL Penerbit Spring]

Ada cowok di dalam kamarnya.
Cath mendongak untuk melihat nomor yang tertulis di pintu, lalu menunduk ke surat penempatan kamar di tangannya.

Pound Hall, 913.

Sudah pasti ini kamar 913, tapi mungkin bukan Pound Hall—semua asrama di sini terlihat sama, seperti bangunan perumahan untuk kaum jompo. Mungkin Cath sebaiknya mencoba menahan ayahnya sebelum ayahnya itu membawa sisa kardus ke atas.

“Kau pasti Cather,” kata cowok itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.
“Cath,” kata Cath, merasakan sentakan rasa gugup di perutnya. Ia mengabaikan tangan cowok itu. (Lagian, ia memegang kardus, apa yang diharapakan cowok itu darinya?)

Ada yang salah—pasti ada yang salah. Cath tahu kalau Pound itu asrama campuran.... Apa memang ada kamar campuran?

Cowok itu mengambil kardus dari tangan Cath dan meletakkannya di atas tempat tidur yang kosong. Tempat tidur di sisi lain ruangan sudah dipenuhi dengan pakaian dan kardus.

“Apa barangmu masih ada yang di bawah?” tanya cowok itu. “Kami baru saja selesai. Kurasa kami akan pergi makan burger sekarang; kau mau burger? Apa kau sudah pernah ke Pear’s? Burgernya seukuran kepalanmu.” Cowok itu mengangkat lengan Cath. Cath menelan ludah. “Kepalkan tanganmu,” kata cowok itu.

Cath melakukannya.
“Lebih besar dari kepalanmu,” kata cowok itu, melepaskan tangan Cath dan mengangkat tas punggung yang Cath letakkan di luar pintu. “Apa kardusmu masih ada lagi? Pasti masih ada lagi. Apa kau lapar?” Lalu ia mengulurkan tangannya. “Ngomong-ngomong, namaku Levi.”

***
Setelah selesai menata semua barang-barangnya satu hal yang ingin dilakukan Cath adalah menghidupkan laptopnya dan sesegera mungkin mulai menulis fanfiksinya. Pasti sudah banyak fans yang menunggu tulisan terbarunya. Bagi Cath, fanfiksi itu seperti hidupnya sendiri. Dia sempat bertengkar dengan Wren—saudari kembarnya—saat dia menyuruh Cath untuk lebih bersosialisasi ketimbang menulis fanfiksi. Cath mulai mengambil laptopnya, dia urung menghidupkannya. Pikirannya hanya tertuju pada cowok itu, cowok misterius yang muncul tiba-tiba di hari pertamanya di asrama.

Seandainya Wren mau jadi teman sekamarku, pasti nggak akan ada hal kayak gini, pikir Cath dalam hati.

Cath mengedikkan bahunya, dia mendesah pelan, “Apakah ini pertanda kehidupanku akan berubah? Apakah ada yang lebih mengasyikkan daripada seri Simon Snow dan tentu saja menulis fanfiksinya?” tanya Cath pada dirinya sendiri.

Jari-jari Cath mulai menari dia atas keyboard laptopnya. Aksinya sebagai Magicath telah dimulai. Dengan lihai semua kata dirangkainya. Ada kepuasan tersendiri saat tulisannya diapresiasi oleh fansnya. Cath mencoba untuk melupakan sosok cowok tadi dan berkosentrasi dengan apa yang ada di depannya. Imajinasinya mulai terangkai di layar laptopnya.

“Selesai juga!” teriak Cath setelah mengunggah tulisannya ke internet. Untung tak ada orang yang melihatnya sedang berteriak lega, orang yang melihatnya pasti akan berpikir kalau dia gila. Kelelahan yang menumpuk kini membuat perut Cath memberontak. Cath mencari sesuatu di antara barang-barangnya, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Namun, sayang Cath tak menemukan apa yang dicarinya.

Pear’s. Kata itu melintas di dalam benak Cath. Cath kemudian memutuskan untuk menuju tempat itu karena rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Tapi di mana dia bisa menemukan tempat itu? Cath baru menyadari bahwa dia belum tahu banyak tentang tempat ini. Dia masih asing. Bayangan burger yang sebesar kepalan tangan itu memenuhi otaknya. Dia berpikir dengan cepat. Catha pun memutuskan untuk mencarinya dan selama masih punya mulut, dia bisa bertanya pada orang-orang yang lewat.

“Seandainya tadi aku ikut cowok itu, pasti nggak akan kebingungan seperti ini,” keluh Cath setelah berkeliling tapi belum juga menemukan tempat itu. Pada kenyataanya Cath pun tak menggunakan mulutnya untuk bertanya, dia terlalu malu untuk bertanya, entah apa yang ada dibenaknya hingga terjadi hal seperti itu.

“Hai!!!” Terdengar sebuah suara dari belakang Cath. Cath belum mendengar sapaan itu. Si pemilik suara pun akhirnya menepuk punggung Cath. Cath baru sadar dari lamunannya.
“Siapa?” tanya Cath malas tanpa melihat siapa yang melakukannya.
“Coba tengok saja!” kata suara itu dengan nada ceria.
Cath menoleh, dan hampir memekik, “Levi???”
“Kau lapar?” tanya Levi sambil menganggsurkan sebuah bungkusan padanya.
Cath membisu.
Ketemu dia lagi, apa yang akan terjadi ini? pikir Cath.
“Dasar, cewek aneh! Diajak ngomong malah diam saja,” gumam Levi.
“Apa ini?” tanya Cath berbasa-basi.
“Nah, ngomong dong. Itu burger yang tadi aku omongin ke kamu,” jelas Levi dengan senyum merekah di wajahnya.
“Makasih.” Semburat merah terbit di wajah Cath.

Ini bukan fiksi kan? Ini nyata? tanya Cath dalam hati.
Baru kali ini Cath menemukan cowok seperti itu—tepatnya pertama kalinya bagi Cath. Cath tidak mimpi apapun semalam, semuanya terjadi begitu saja.

“Aku pergi dulu,” pamit Levi sambil mendekatkan bungkusan itu ke tangan Cath.
Cath menerimanya, kulitnya bersentuhan dengan kulit Levi. Seketika saja perasaan aneh menjalar.


Levi tersenyum, senyum penuh arti.
***

Dari penulis best-seller Eleanor and Park
Penulis: Rainbow Rowel
Terbit: November 2014

Kamis, 28 Agustus 2014

The Death Box

Penuturan Ellectra Woods….
Aku tidak tahu banyak tentang kehidupan, namun tahu banyak tentang kematian[1]. Kematian bukanlah hal yang menakutkan bagiku, bukan sesuatu yang harus aku khawatirkan. Kenapa? Karena aku selalu dekat dengan kematian itu. Mungkin untuk orang-orang yang tak memiliki kemampuan sepertiku hal ini sangatlah aneh. Seaneh tatapan orang-orang yang memandangku sebelah mata. Aku nyaris kehilangan semua teman-temanku karena hal ini. Mereka menjauhiku, takut sesuatu akan terjadi jika terlalu dekat denganku. Tapi tidak dengan Matt, lelaki ini mencoba untuk tetap menjadi temanku, meski kutahu ada keraguan dalam dirinya.
Aku tak tahu dari siapa aku mewarisi kemampuan ini, keluargaku tak ada yang memiliki kemampuan ‘aneh’ ini. Melihat kematian. Ya, aku bisa melihat kematian yang hendak menjemput orang-orang yang aku temui. Sering kali saat aku mencoba memperingatkan mereka tak ada yang percaya. Cacian dan kutukanlah yang aku terima setelah maut menjemput orang yang telah aku beri tahu. Kematian itu bisa ditunda apabila mereka mau mendengarkan, tapi tak ada yang percaya. Aku selalu datang pada misa untuk para arwah, banyak yang melarang tapi aku bersikukuh untuk datang. Aku merasa bertanggung jawab atas kejadian ini.
Tuhan, kenapa kau berikan kemampuan ini? Aku tak mengerti. Adakah tujuan tertentu dari semua ini? batinku saat duduk di deretan bangku paling belakang di Katedral ini.
Air mata ini tak berhenti menetes mengingat Belle, teman sekolahku yang kini terbujur kaku di peti coklat itu. Seperti yang telah kujelaskan tadi, aku juga memperingatkan Belle saat penglihatan itu datang. Naas, semuanya terlambat. Tubuhnya terlindas truk yang melintas di jalanan depan sekolahku, ketika ia tengah sibuk dengan gadgetnya.
Aku berteriak seperti orang kesetanan memperingatkannya. Orang-orang mulai memperhatikanku saat itu, curiga dengan perkataanku karena saat itu lalu lintas cukup lenggang. Darah segar yang menggenang di atas aspal itu membentuk sebuah sosok. Sosok yang mengerikan dengan tanduk di kepala dan mata yang kosong tanpa manik.
“Matt, kau melihat ada yang aneh pada genangan darah itu?” tanyaku pada Matt yang sedari tadi berjalan bersamaku.
Hari ini sepulang sekolah aku dan Matt berencana untuk ke perpustakaan kota untuk mencari tahu tentang apa yang aku miliki.
“Tak ada. Kau melihat sesuatu? Kau bisa mengatakannya padaku.”
Aku tahu Matt tidak main-main dengan kata-katanya. Dialah satu-satunya teman yang menerimaku apa adanya terlepas dari keanehanku. Terlalu sering aku bercerita tentang apa yang aku lihat. Sejauh ini dia cukup kooperatif dan berusaha mendengarkanku dengan tulus.
“Tidak untuk saat ini Matt.”
“Kita harus memberitahu keluarga Belle. Kau harus kuat,” kata Matt lembut.
***
“Elle…. Ellectra!!!”
Aku menoleh untuk mencari sumber suara itu. Tapi tak kutemui. Suasana kamar yang gelap dan dinginnya musim gugur membuat bulu kudukku berdiri. Aku tidak bermimpi karena aku yakin aku belum tidur.
Sebelumnya aku tak pernah merasa seperti ini, merasa ketakutan. Apa karena ini kematian orang yang aku kenal dengan baik meski dia juga ikut-ikutan menjauhiku? Tidak, aku tahu Belle tidak sejahat itu, aku dan Belle adalah sahabat. Dulu. Sebelum aku mendapatkan penglihatan aneh ini.
“Kenapa aku tidak bisa melihat kematianku sendiri?” gumamku.
***
“Elle, aku tahu kau sangat terganggu dengan penglihatanmu dan kau ingin menghilangkannya kan?”
“Siapa kau? Aku tak mengenalmu.”
“Elle kau tak perlu tahu siapa aku, kau hanya perlu menjawab saja apakah kau ingin melihat kematianmu sendiri?”
Aku tak tahu harus menjawab apa. Kulihat wanita berambut pirang dengan kulit putih pucatnya. Gaun putih yang dikenakannya membuatnya seakan melayang. Kulihat sekeliling penuh dengan nisan yang telah lama berdiri. Aku berada di pemakaman Garden of the Soul, pemakaman yang berada di kotaku. Aku tahu setiap detil dari tempat ini, karena sebelum aku mendapatkan penglihatan itu aku sering ke sini untuk memahami monument kematian ini.
“Elle…. Kenapa hanya diam saja?”
Aku mengangguk.
“Aku tahu kau pasti akan melakukan ini.”
“Maksutmu?”
“Kau pelintas batas. Ini kutukan untukmu.”
Sosok wanita itu pun menghilang ditelan kabut yang tiba-tiba saja datang diikuti oleh lolongan serigala. Bulu kudukku meremang, kulangkahkan kakiku sejauh mungkin meninggalkan pemakaman ini, tapi kakiku terantuk sebuah batu dan aku pun terjatuh. Kurasakan nyeri di kepalaku. Seketika saja gelap, aku tak bisa melihat apa pun. Kuraba kepalaku dan mendapati sebuah luka dengan darah yang menetes. 
“Elle…. Elllectra…. Kau harus bangun ini bukan akhir dari kehidupanmu Elle.”
Suara itu terdengar sangat familiar,  “Belle… Kau kah itu?”
Kucoba untuk membuka mataku. Kelopak mataku terasa berat dari biasanya. Cahaya dari sekitarku langsung menyerang kedua lensa mataku.
“Tunggu…. Aku tadi di pemakaman. Tapi kenapa aku berada di kamarku? Kurasakan nyeri di kepala. Terluka. Ini mimpi atau kenyataan?”
***
“Elle kau baik-baik saja? Kau tampak sangat pucat. Kau sakit?” tanya Matt.
“Tidak Matt. Semalam aku mimpi buruk.” Selanjutnya aku pun menceritakan mimpiku pada Matt.
“Apa? Pelintas batas? Pemakaman Garden of the Soul???” ucap Matt terkejut.
“Kau tahu sesuatu Matt?”
“Aku tak yakin, tapi aku pernah membaca buku tentang pemakaman itu. Kau tahu pemakaman itu jarang dikunjungi orang, dan aku malah menjelajahi tempat berhantu itu.”
“Matt itu hanya mitos,” belaku.
“Bukan, Elle. Itu nyata adanya. Kau harus membaca ini.”
Aku membaca setiap rangkaian kata-kata yang tercetak di atas kertas yang telah menguning. Usia buku ini mungkin sudah lama sekali. Aku paham sekali sekarang. Pemakaman itu bukanlah hanya sebuah pemakaman kuno. Tapi juga gerbang menuju dunia kematian. Setiap pelintas batas yang beruntung akan mendapatkan penglihatan itu. Namun, ia juga harus mendapatkan The Death Box untuk menghentikan semua penglihatan ini.
Aku tercekat saat membaca penjelasan bahwa Death Box itu mungkin saja tersimpan di dalam kuburan salah satu korban.
Matt, memapahku saat aku nyaris saja terjatuh. Dia sudah paham dengan isi buku itu. Kepalaku masih penuh dengan kedua sosok aneh yang kutemui di dunia nyata dan dunia mimpi.
“Kita pulang, Elle. Kau butuh istirahat.”
***
“Elle, kau siap malam ini?”
“Untuk apa?”
“Menghilangkan kutukan itu!” seru Matt dari ujung telpon.
“Tentu, tapi aku tak yakin. Harus dari mana kita memulai?”
“Temui aku di Garden of the Soul jam 8 malam.”
“Baik, adakah sesuatu yang harus aku persiapkan?”
“Siapkan saja mentalmu!” Sambungan telpon itu pun terputus.
Garden of the Soul tampak muram malam ini, kabut tipis menghiasi hampir tiap jengkal dari area ini. Matt sudah menunggu di depan pintu masuk, sesekali ia merapatkan jaket musim dinginnya. Udara malam di sini terasa lebih dingin dari area lainnya. Matt terlihat cemas, berulang-ulang dia melihat ponselnya jam menunjukkan sudah jam 8 lewat tapi Elle belum juga nampak.
“Mattt!!!” Sebuah suara memanggil namanya.
“Elle? Kau di mana?”
“Di sini!”
Suara itu terdengar dari dalam kompleks pemakaman. Matt bergegas masuk ke dalam, kepalanya penuh tanya tentang kapan Elle ada di dalam dan bagaimana dia tak melihatnya. Udara dingin bertukar dengan hawa panas yang membakar kulit Matt, sebuah keanehan yang tak pernah Matt temui. Matt pun melepas jaketnya dan menghiraukan hawa ini yang lama kelamaan mampu ia atasi.
“Mattt…. Tolong aku!!!”
“Elle, kau kenapa?”
Matt tercengang ketika melihat Elle terjebak di atas sebuah lubang dekat dengan makam Belle.
“Tarik aku! Aku nggak mau masuk ke dalam tanah. Mereka menarikku, menginginkanku!”
“Elle, apa kau menemukan sesuatu?”
“Kotak itu ada di sini tadi, tapi saat aku mengambilnya aku terperosok dan mereka menarikku. Cepat tarik aku!”
Matt mencoba menarik Elle dengan sepenuh tenaga, tapi usahanya belum menghasilkan apapun. Keringat mulai berkucuran hawa panas mulai terasa lebih membakar daripada yang tadi. Tangan Elle terasa begitu dingin. Elle tampak begitu pucat seperti seluruh darahnya tersedot ke dalam.
Air mata meleleh di pipi Elle. Wajahnya tampak kosong tak ada sorot dalam kedua matanya. Kini hampir setengah tubuhnya tertelan tanah. Tenaga Matt pun terkuras habis.
“Lepaskan aku, Matt. Kumohon,” pinta Elle lemah.
“Tidak Elle!!! Aku tak akan melepaskannya.”
“Ini pilihanku, mereka menginginkanku. Bukan dirimu.”
“Mereka, siapa?”
“Para iblis!”
Pegangan Elle mulai melemah, tapi tangan Matt masih mengenggamnya. Sedikit demi sedikit, Matt pun mulai memucat semua kekuatannya habis. Genggaman itu tak terlepas seakan ada lem ajaib yang melekatkannya. Tubuh Elle mulai tersedot masuk ke dalam. Kini dia tengah kehilangan kesadarannya. Pun demikian dengan Matt. Kedua insan itu tersedot menuju dunia lain, dunia yang penuh tanda tanya.



[1] Kalimat pertama novel Angel karya Ashara.

Kamis, 10 Juli 2014

Mon Chéri et I

“Kau percaya takdir?” tanyanya polos.
“Takdir???” tanyaku ragu.
“Ketentuan atau ketetapan  Tuhan itulah takdir,” jawabnya diplomatis.
Bagaimana aku bisa mempercayai takdir itu, jika aku saja tak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak, batinku.
“Mungkin,” kujawab lirih.
“Bagaimana denganmu?”
“Aku percaya dengan sepenuh hatiku, seperti bertemu denganmu adalah takdirku.” Sebentuk senyum menghiasi wajahnya yang membuatku tak bosan untuk menatapnya. Pertemuan pertama itu sangat berkesan untukku.
****
Ambil pisau itu. Potong lidahnya. Lidah yang tak bisa dipercaya janjinya. Bunuh dia. Apa kau tidak paham juga? Dia telah mengkhianatimu. Menduakanmu. Dan parahnya kau berusaha untuk tetap bersamanya padahal kau tahu, dia akan meninggalkanmu. Sendirian. Ya. Kau tak bisa lagi bersamanya. Dia tak pantas lagi hidup.
“Hentikan!!!” pekiknya memecah kesunyian pagi itu. Entah sudah berapa kali bisikan-bisikan itu singgah di telinganya.
“Haruskah aku melakukan itu?” tanyanya dalam hati.
“Drddddddd….” Suara getar ponsel membuyarkan lamunannya. Dengan segera dia mengangkat telpon itu.
“Kau sudah siap mon chéri[1]?”
“Sebentar lagi, aku pasti datang kau tenang saja, dan jangan panggil aku mon chéri lagi, bukankah kita sudah sepakat tidak akan menggunakan nama panggilan itu lagi?”
“Tapi, aku ma….”
Kata-kata itu tak sempat terselesaikan. Sambungan telpon itu telah diputus. Lelaki itu bersiap dan segera memakai jas hitamnya. Diliriknya sebuah pisau lipat yang tergeletak di atas meja. Diambilnya pisau lipat itu. Dimasukkannya di dalam sakunya.
Bagus. Itu yang harus kau lakukan. Kau harus menghabisinya hari ini juga atau kau akan menyesalinya.
 Suara itu terdengar lagi  menggema di kepalanya. Kini diikuti tawa bengis. Lelaki itu bersiap untuk pergi.
****
Ruangan itu penuh dengan nuansa putih nan suci. Langkahnya terasa berat saat menjejakkan kakinya di ruangan itu. Semua orang di dalamnya tampak senang, senyum menghiasi wajah mereka. Hanya lelaki ini yang tidak merasakan hal itu. Mendung.
Lelaki ini menatap setiap orang di situ. Berharap segera mendapatkan sosok yang dia cari. Kekasihnya. Dulu. Tapi tidak sekarang. Hatinya berkecamuk, entah apa yang akan dikatakannya saat dia bertemu.
“Andre, kau datang juga?” Sebuah suara terdengar dari arah belakang.
“Kenapa kau ada di sini, Andrew?” tanya Andre heran.
“Dia mengundangku juga, aku pernah dekat dengannya walaupun sebentar.”
“Ya. Aku tahu. Dan kaulah yang merusak hubunganku dengannya.”
Andrew tersenyum pahit. Dia menepuk punggung Andre dan berkata, “tapi kini bahkan tak ada di antara kita yang bisa memilikinya”
“Dia telah menemukan takdirnya.”
Takdirnya bukanlah kau. Kau harus menyadarinya dan melakukan sesuatu.
Sebuah senyum menghiasi wajah Andre. Senyum palsu. Bertemu dengan Andrew membuat emosinya mendidih. Orang tak tahu diri itu bahkan tidak meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan padanya.
Dia dan Andrew harus kau musnahkan. mereka berdua tak ubahnya seperti parasit. Setelah  mendapatkan apa yang diinginkan, kau kini dibuang. Camkan itu!
“Lihat saja nanti kau akan melihat sebuah pertunjukan yang sebenarnya”, ucap Andrew ketus sambil berlalu meninggalkan Andre.
“Kau juga!” jawab Andre dalam hati.
Sebuah tangan menarik tangan Andre dari belakang. Mengenggam erat. Hangat. Seolah tak peduli. Tanpa melihatnya pun, Andre sudah tahu tangan siapa itu. Perasaannya campur aduk, antara senang dan sedih. Senang bisa merasakan tangan itu lagi. Sedih karena hal ini adalah yang terakhir baginya.
“Kau datang juga,”. bisiknya lembut.
“Aku akan menepati janjiku, Pandu tidak seperti…”
Kata-kata itu tak sempat terselesaikan saat Pandu menutup mulut Andre. Dituntunnya Andre menuju arah belakang. Tangannya masih mengenggam erat.
“Kau kelihatan lebih tampan dari pada sebelumnya, kau pasti sangat bahagia Pandu.”
“Akan lebih bahagia lagi jika aku bisa menghabiskan waktuku bersamamu, sampai akhir nafasku,” ucap Pandu pelan sambil mengusap pipi Andre.
“Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kau perbuat, seperti yang sering kau katakan padaku dulu.”
Pandu mendekatkan tubuhnya ke Andre. Andre mendorongnya. Secara fisik dan emosional. Menampiknya. Namun, Pandu tak mau menyerah begitu saja, dia mendorong Andre ke dinding dan memeluknya dengan erat. Tangan Pandu mulai mengusap pipi Andre, tak terasa butiran bening itu menetes dan mengenai tangan Pandu.
“Kau menangis?”
“Seperti yang kau lihat, tapi ini adalah tangisan bahagia. Aku akan bahagia saat melihat orang yang kucintai bahagia. Kau adalah takdirku”.
“Maaf, tapi aku tak bisa menepati janji-janjiku, aku masih mencintaimu. Sungguh mencintaimu….”
Pandu mendekatkan wajahnya ke wajah Andre, menempelkan bibirnya ke bibir Andre dan bersiap untuk melumatnya, Seperti yang mereka lakukan dulu. Andre mendorong tubuh Pandu, tak ingin melakukan hal itu lagi.
“Sejak kapan kau percaya takdir?”
“Sejak aku mulai mencintaimu, sejak aku menemukan keyakinanku kembali.”
“Pandu, sudah waktunya kau ke depan, Marianne sudah menunggumu. Dia sudah bersiap untuk berjalan bersamamu menuju altar,” kata Andre sambil merapikan kemeja putih yang dikenakan Pandu.
“Kumohon untuk terakhir kalinya, aku ingin merasakan hangat pelukan tubuhmu Andre.”
Andre memeluknya penuh dengan cinta. Hal yang tak akan dia lakukan lagi dengan Pandu setelah dia resmi menikah dengan Marianne.
Ambil pisau itu tolol. Ini kesempatan yang bagus.
Andre sedikit merengangkan pelukan Pandu. Pisau itu sudah berada digenggamannya.
Tusuk sekarang! Jangan menusuknya! Tusuk sekarang! Kau harus merelakannya….
“Tidakkkk!!! Aku tak bisa melakukannya, aku akan bahagia saat dia bahagia,” kata Andre dalam hati.
Jiwanya bergejolak. Dimasukkannya lagi pisau itu. Mengeratkan kembali pelukannya. Bibir Pandu dan Andre pun bersatu dalam hangatnya cinta.
Dasar tolol. Kau akan merasakannya nanti. Kehilangan kekasihmu untuk selamanya.
Pandu dan Marianne kini telah berjalan menuju altar. Musik yang mengalun membuat suasana semakin terasa romantis. Senyum itu masih menghiasi wajah Andre. Palsu.
Dilihatnya Andrew yang tengah duduk di bangku satu deret di depannya. Andrew tengah sibuk mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya, saat Pandu dan Marianne semakin mendekat ke altar. Kembali Andre mendengar suara dikepalanya, diambilnya pisau itu lagi.
Satu langkah lagi mereka sampai di depan altar, tiba-tiba saja suara bising memecah suasana syahdu ini, orang-orang mulai berlarian saat melihat asap yang muncul. Saat itulah Andrew mulai bangkit dan berjalan menuju Pandu, dikeluarkannya sebuah pisau lipat dari tangannya, dan bersiap untuk menusukkannya ke tubuh Pandu.
Dengan cepat Andre berlari menuju Pandu saat menyadari hal yang tidak wajar. Pisau itu kini di tangannya.
“Mati kau brengsek!!!” kata Andrew sambil  menusukkan pisau itu ke tubuh Pandu.
Bruukkk, tubuh itu terjatuh terkulai, darah bersimbah dari tubuhnya.
“Mencintaimu adalah takdirku,” kata Andre di pelukan Pandu dan napas pun tak berhembus lagi.



[1] kekasihku dalam bahasa Prancis kata-kata tersebut berjenis maskulin.

Minggu, 01 Juni 2014

Resensi Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah!


Judul Buku                           : Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah!
Penulis                                 :  Fachmy Casofa
Penerbit                               : Metagraf
Jumlah Halaman                   : 236 halaman
Tahun Terbit                        : Februari 2014

ISBN                                  :  978-602-9212-90-7


Buku ini secara garis besar memiliki dua bagian yaitu: menerbangkan Indonesia dan 50 gagasan brilian. Di bagian pertama berisi tentang kisah sukses Habibie dalam merancang dan menerbangkan pesawat buatan Indonesia N-250/Gatotkoco. Jalan terjal yang harus dilalui dalam proses pembuatannya hingga akhirnya bisa terbang membelah langit Indonesia. Selain itu juga dibahas tentang riwayat hidup Habibie, mulai dari kisah Ayah dan Ibu Habibie, proses kelahiran Habibie, masa kecilnya, masa remajanya hingga menikah dengan Ibu Ainun. Bagian kedua adalah tentang kelimapuluh gagasan brilian Habibie untuk generasi muda Indonesia. Setiap gagasan diberikan penjelasan singkat tapi sangat jelas dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Gagasan tentang nasionalisme, pembangunan, cinta, keluarga , mimpi dll.
Membaca buku ini pembaca bisa menikmati kisah hidup Habibie yang penuh inspirasi. Dilengkapi dengan foto-foto penuh kenangan yang pasti juga menarik untuk dinikmati, bahasa yang sederhana dan layout yang menarik dengan ukuran dan warna huruf dalam paragraf yang berbeda sesuai dengan penekanan pada isi paragraf. Untuk kekurangan buku ini nyaris sempurna, tak ada typo hingga tak mengganggu dalam membaca.
Kesimpulannya dengan membaca buku ini banyak pengetahuan yang dapat diambil. Serta buku ini sangat di sarankan untuk pembaca muda Indonesia, generasi penerus bangsa.

Beside Your Shadow


Dia mendorong, memojokkanku di sudut kamar yang sempit ini. Aku mencoba untuk melawan, tapi lengannya yang berotot begitu keras menahan tubuh kurusku. Mata hitamnya menatapku tajam penuh kecemburuan dan rasa ingin tahu. Seakan ingin menelanku bulat-bulat. Nafasnya memburu sebuah jawaban. Aku heran tak seperti biasanya dia seperti ini, memperlakukanku begitu kasar. Menohok dengan kemarahan yang jelas terlukis di wajahnya.
Aku berontak, mengerahkan semua tenagaku untuk menyingkirkan tubuhnya yang kini semakin menindihku. Tangannya mengepal, bersiap untuk memberikan tinjunya. Kulakukan hal yang sama, sebatas persiapan jika dia memulai. Hampir setengah jam aku berada dalam posisi seperti ini, meringkuk seperti pesakitan. Air mukanya tak juga berubah, wajah yang biasanya ceria dengan senyuman itu kini merah padam dengan amarah.
Kuberanikan untuk membuka suara, “Apa maumu?”
“Siapa dia?” tanyanya dengan nada keras yang jarang aku dengar keluar dari mulutnya selama kami bersama.
“Teman…,” kataku datar. 
Dia mulai mengendurkan pertahanannya, segera kudorong tubuhnya untuk meloloskan diri. Aku bersiap untuk berlari, namun kalah cepat dengannya yang kini telah berdiri di depan pintu kosku.
“Kau tak akan pergi ke mana-mana malam ini!” bentaknya dengan suara keras yang membuat tubuhku bergetar.
Dengan cekatan dia mengunci pintu itu, mengambil kunci  dan juga menggeledahku hingga mendapatan kunci yang kubawa. Tak biasanya dia datang tiba-tiba tanpa memberitahukanku. Aku sudah begitu mempercayainya hingga kuberikan satu kunci untuknya. Tak ada pilihan lain selain mematuhinya, aku takut dia akan berbuat lebih dari yang tadi. Aku pun tak mau bila aku harus babak belur karena dia. Aku segera menuju pojokan kamar dan berusaha untuk tidak melihatnya. Mataku sudah begitu berat. Lelah yang menyergap membuatku terlelap dan tak mengacuhkannya.
“Sayang…, bangun, Yang!” Suaranya yang berat mulai mengusikku diikuti dengan guncangan dari tangannya.
Aku mulai membuka mata, kusingkirkan selimut yang menutupi tubuhku. Aku tahu selalu saja ada kelembutan dalam dirimu. Terima kasih sudah menyelimutiku semalam, batinku. Kutatap wajahnya yang secerah matahari pagi, sisa-sisa kemarahan masih ada di matanya.
***
Sinar matahari yang menyelinap masuk di antara deretan pohon karet ini begitu memukauku. Di bagian lain tampak gelap oleh bayangannya dan di sisi lain terlihat sinar matahari itu. Sejuk mulai menyentuh tubuhku. Tanah yang kupijak berwarna kemerahan, rumput-rumput yang menghijau menambah suasana damai tempat ini.
Setelah selesai dengan kegiatan pagi ini, dia langsung mengajakku ke suatu tempat yang dia rahasiakan. Tentu saja aku curiga, pikiranku dipenuhi dengan hal-hal buruk. Memukuliku di tempat sepi mungkin?
Ya, tempat ini memang sepi, jalan raya yang membelah kebun karet ini  tak begitu lebar. Jalan raya  yang menghubungkan Kedungjati dan Salatiga ini tidak banyak dilewati kendaraan. Suara serangga mengisi ruang dengarku. Kulihat batu besar yang berada di tepi kebun karet. Kontur tanah yang berbeda membuatku semakin kagum dengan  tempat ini. Aku layaknya anak kecil yang menemukan mainan baru. Aku melompat dari tanah yang lebih tinggi menuju tanah yang rendah.  Kulihat dia tengah asik memainkan kameranya setelah memarkirkan motornya di tempat yang aman. Deretan pohon karet ini memberikan perlindungan dari sinar matahari yang tidak begitu panas karena udara pegunungan yang dingin bersatu di sini.
Aku berpindah-pindah menuju setiap deretan pohon karet dan menatap lekat getah karet yang mengalir dari sayatan kulitnya menuju ke sebuah wadah kecil berbentuk mangkuk. Sebanyak apa pun dan sedalam apa pun sayatan itu dibuat, pohon karet itu tetap hidup dan tegak berdiri. Aku ingin kisah cintaku seperti itu, tetap hidup tak peduli seberat apa pun konflik yang kami alami. Getah itu layaknya darah dalam tubuh manusia, manusia akan mati saat kehilangan begitu banyak darah. Ya, inilah bedanya manusia dan tumbuhan.
Setelah puas menikmati kebun karet ini, kusandaran tubuhku di batu besar. Rasa kagum dan penasaran mulai merambat dibenakku. Bagaimana bisa batu sebesar ini berada di tempat yang sangat tinggi.  Siapa yang membawanya? Aku tersenyum samar menyadari apa yang  baru saja kupikirkan.
“Sat, kau suka tempat ini?”
Kubuka mataku saat kudengar suaranya. Kutolehkan wajah ke arahnya yang kini berada tepat di sampingku. Tak kulihat bayangannya yang tertutup oleh tubuhku. Aku seperti bayangannya begitu dekat namun tak mampu kusentuh. Akulah bayangannya yang selalu mengisi pikirannya.
“Ya. Begitu sejuk dan indah. Kau dapat banyak foto?”
“Tentu, kau mau melihatnya?”
“Sini bawa kemari kameranya,” kataku sedikit pelan. Aku masih takut memancing kemarahannya lagi.
Dia mengangsurkan kameranya, ketika aku hendak memegangnya dengan cepat dia menariknya. Aku kecewa telah dipermainkan.
Kudengar suara tawa renyah mengisi udara. Dia begitu senang telah mengerjaiku, kutemukan lagi wajah yang kukenal. Kami berdua kemudian duduk bersandar batu besar ini.
“Sat, aku bawa kamu ke sini ada yang mau aku omongin ke kamu.”
“Ada apa?”
“Ini Bringin, kita berada di sebuah daerah di kabupaten Semarang. Dulu aku sering ke sini saat aku banyak masalah, menikmati keindahan yang disuguhkan alam membuatku melupakan apa yang tengah terjadi.”
Aku mengangguk sambil memeluk erat kedua kaki yang kutekuk di depan wajah. Kurasakan tangannya mengusap kepalaku dan hangat mendarat di keningku. Kecupan itu sudah lama tak kurasakan, dia sudah kehilangan keromantisannya saat menemukan seseorang yang lain.
“Maafkan aku. Meskinya aku tak semarah itu semalam. Aku… aku hanya tak ingin kau begitu dekat dan tertawa lepas dengan orang lain.”
“Kau melihat semua yang aku lakukan bersama Adam?”
Dia hanya menundukkan wajahnya, ada raut sesal di situ.
“Sudah kukatakan dia hanya teman, tak lebih. Kami hanya menikmati malam Minggu sebagai sahabat.”
“Aku tahu, Sat. Aku terlalu egois, tak memikirkan apa yang kamu rasakan. Aku begitu bodoh dan nggak peka. Maafkan aku Sat….” Kini kulihat wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Kudengar dengan jelas detak jantungnya.
Aku pun sama, melihat semua kemesraan yang kau berikan pada gadismu. Rasa yang sama juga muncul dalam benakku saat melihat hal itu. Tapi aku sadar, aku tak lebih seperti bayangan, begitu dekat namun tak mampu kau sentuh, ucapku dalam hati.
“Jamie, aku tahu ini adalah resiko yang harus kita ambil saat kita memilih untuk meneruskan hubungan setelah kau jatuh hati dengannya. Kau tak mampu melepaskanku, begitu juga aku. Kau tak mampu memilih padahal ada pilihan di antara aku dan dia. Kurelakan separuh atau mungkin seluruh cintamu untuknya, asal kau berada di sisiku. Egois memang.”
Jamie kemudian memelukku dengan erat, “Andai bisa kumiliki kau seutuhnya dan selamanya,” kataku lirih.
***


Minggu, 25 Mei 2014

Yotsuba No Clover No Ai

 “Onii chan[1], aku nggak mau kehilangan kamu,” rengek seorang gadis kecil sambil menggoyangkan tubuh lawan bicaranya.
“Hikari-chan[2], kita nggak akan berpisah, kalau kamu merindukanku, lihatlah langit anggaplah awan itu sebagai aku, saat kau lihat awan putih yang sedang asyik berlarian, aku lagi senang, dan saat kau lihat awan mendung kau tahukan artinya?” kata Kazuki sambil mengenggam tangan Hikari.
 “Onii chan, ini buat kamu,” kata Hikari sambil memberikan seikat bunga-bunga liar pada Kazuki.
Trims.
“Kamu lagi nyari apa?”
“Semanggi.
“Lihat Onii chan, bukankah di sini ada banyak.
Bukan, aku nyari yang gak kayak gitu, coba kamu lihat daunnya.
“Ada tiga daun.
“Cari yang berdaun empat, kalau kamu nemuin semanggi berdaun empat kamu bisa membuat permintaan kepada keempat daunnya, semanggi seperti itu sangat langka.
Kedua anak kecil itu tenggelam dalam pencarian mereka. Hingga sore, mereka tak menemukannya. Hikari kelelahan, akhirnya Kazuki memutuskan untuk menggendongnya saat  pulang.

***
Delapan tahun kemudian,  bulan Maret aku bergembira menyambut datangnya musim semi. Setiap orang menantikan munculnya kuncup-kuncup bunga pohon sakura.
Kususuri areal satoyama[3] itu lagi untuk pertama kalinya semenjak kepergianku. Perjalanan yang cukup melelahkan dari pusat kota Tokyo yang memakan waktu sekitar setengah hari. Sasayama masih sama, areanya masih dihiasi persawahan, dikelilingi perbukitan dan gunung-gunung. Masih jarang toko dan restoran besar di kota ini.
 “Hei, lagi ngapain kamu?” Kudengar sebuah suara memanggilku, aku masih sibuk mencari semanggi, tak kutolehkan kepalaku ke sumber suara. Suara itu terdengar semakin mendekat.
Kamu denger atau nggak?” seloroh suara itu.
“Iya,” jawabku kesal.
Kulihat bayangan itu mendekatiku, aku masih tidak menghiraukannya. Sosok lelaki itu kini telah berada di sampingku, dia menatapku penuh keheranan.
“Ketemu!!!Aku setengah berteriak saat aku hendak memetik semanggi berdaun empat itu. Belum sempat aku mendaratkan tanganku ke semanggi itu kusentuh tangannya yang telah mendahuli berada di atas daun itu. Kurasakan getaran aneh yang muncul saat aku menyentuh tangannya. Tanganku  bergetar.
“Aku duluan yang nemuin!Kudorong sosok lelaki itu dari sampingku.
“Tapi aku dulu yang menyentuhnya,” jawab lelaki itu pelan.
Kuarahkan tanganku hendak memetik semanggi itu, namun tanganku ditampiknya dengan keras. Dia mulai berceramah. Aku tak mendengarkan apa yang dia katakan, yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana caranya menghentikan ocehannya dan segera mungkin untuk membuat permintaan kepada setiap helai daun semanggi itu.
“Awas, ada ular di sampingmu,” ucapku berbohong padanya.
“Haahhh,” jawabnya terkejut dan meninggalkan semanggi itu.
Kudekati daun semanggi itu, kupegang tangkainya. Aku mulai berdoa dalam hati, “Aku hanya menginginkan bisa bertemu lagi dengan Kazuki.”
“Heyy, apa yang kamu lakuin? Bukankah kau bilang ada ular di sana?”
Bukan urusanmu!!!” tukasku.
***
Awal April ketika bunga-bunga sakura mulai bermekaran, aku mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan, keluarga Nakano telah pulang, aku  segera menuju Sasayama.  Kulihat potret Kazuki-kun[4] yang digantung di dinding rumah, dia telah tumbuh menjadi remaja yang tampan dan memiliki hidung yang mancung. Ibunya menyerahkan sebuah surat dan meminjamkan sebuah guci kecil. Tempat abu jenazah Kazuki. Aku menangis sejadi-jadinya.
Dear Hikari-chan,
 Bawalah abu jenazahku ke satoyama, di sana kita pernah membuat janji dan aku ingin menepatinya. Lanjutkan hidupmu, temukan cintamu. Sankyu[5].
Nakano Kazuki
Kutatap langit biru itu, kuyakinkan diriku bahwa dia pun telah bahagia di sana, kubawa guci abu jenazahnya menuju satoyama, akhirnya setelah sekian lama terpisah aku pun bisa bersatu lagi dengannya meski kini tak kutemui sosoknya lagi. Kubaringkan tubuhku dan kuletakkan guci itu tepat di sampingku, aku merasa bahwa kini aku sedang bersamanya, kurasakan sosoknya muncul dalam alam pikiranku.
Kudengar suara langkah kaki yang mendekat, lambat namun pasti langkah itu menuju ketempatku berdiam. Aku masih tak memperdulikannya yang ada dalam pikiranku adalah aku hanya ingin bersama Oniichan-ku untuk saat ini, menghabiskan waktu terakhir bersamanya sebelum aku kembali ke Tokyo dan bersiap menghadapi masa-masa SMA.
“Heyy?” sapanya ramah.
Kutolehkan wajahku kearahnya, dengan segera tanganku menyeka bekas air mataku, kutatap sosok itu dengan saksama, entah antara ilusi atau kenyataan tapi aku seakan melihat sosok Onii chan-ku sedang berdiri di sampingku. Lelaki itu begitu mirip dengannya, kulihat sebuah kamera yang dikalungkan di lehernya.
 “Kamu ngapain di sini?” ujarku sambil bangkit. Kurasakan gejolak aneh yang tiba-tiba saja muncul sama seperti saat aku menyentuh tangan si kaca mata.
“Wah, ternyata cewek semanggi,” katanya sambil menatapku dalam-dalam.
Cewek semanggi, siapa?” tanyaku celingukan.
Kamu.”
“Si kaca mata?”
 “Aku punya nama. Enoki Ichiro.
“Otsu Hikari.
Sepersekian detik kemudian kurasakan keheningan, tak ada kata yang terucap dari mulut kami berdua. Enoki sibuk mengabadikan matahari tenggelam dari areal persawahan. Perasaanku tak keruan, bingung antara dia dan Kazuki.
***
Setelah jam sekolah berakhir, aku ingin melihat latihan kendo[6] di ruang olah raga. Kudapati dua orang yang tengah berlatih, kutemukan sosok Ichiro saat dia melepas men[7] nya. Aku bertanya dalam hati, apakah ini kebetulan juga? Terlalu banyak kebetulan yang kutemui hingga aku tak bisa menerimanya. Aku segera berlari, tapi Ichiro memanggilku, “Hikari, kamu sekolah di sini juga?”
Aku hanya mengangguk.
***
 “Hikari, kau ditunggu seseorang di atap sekolah,” kata Rika teman yang duduk di sebelahku.
“Siapa?”
“Lebih baik kau segera ke sana saja, kau akan mengetahuinya nanti.”
“Trims.”
***
 “Kau datang juga.”
“Kamu menyuruhku ke sini?”
“Aku ingin mengajakmu ke festival Tanabata, kamu mau?”
Aku mengangguk, lagi pula aku tak punya rencana di musim panas ini.
***
Langit malam begitu cerah, ribuan bintang berkelip menghiasi malam nan damai. Aku mengenakan sebuah yukata[8] berwarna pink.
“Sudah lama menunggu?” kata Ichiro menyadarkanku dari lamunan.
Aku menggeleng.
“ Ayo kita jalan-jalan sambil menunggu kembang api.”
Aku berjalan di sampingnya  bagiku itu adalah momen yang sangat membahagiakan. Aku menghentikan langkahku saat kulihat orang-orang yang sedang sibuk menulis permohonan di tanzaku[9].  Kuambil yang berwarna merah kutuliskan harapanku, kuberikan satu yang berwarna hijau ke Ichiro, dia pun melakukan hal yang sama.
Kembang api mewarnai langit malam ini, kunikmati setiap percikannya bersamanya.
“Ichiro-kun,  aku mencintaimu.” Kuucapkan dengan jelas dan penuh keberanian.
“Gomenne[10], seandainya aku menemui terlebih dulu,jawabnya pelan. Dia memeluk tubuhku, kurasakan sensasi yang bercampur, kupaksakan untuk menahan air mata.






[1] kakak laki-laki.
[2]  sebutan kehormatan untuk teman dekat, wanita muda, kekasih, teman.
[3] area tanah di antara gunung dan daerah pertanian, secar tipikal area ini terdapat persawahan dan hutan.
[4] akhiran sebutan kehormatan untuk anak laki-laki, teman laki-laki, remaja laki-laki.
[5] terima kasih
[6] seni bela diri Jepang yang menggunakan pedang
[7] pelindung kepala dalam olah raga kendo
[8] kimono dari bahan yang tipis yang biasa dipakai di musim panas
[9] kertas kecil warna warni yang digantungkan di pohon harapan yang terbuat dari bambu.
[10] maaf