>
Tampilkan postingan dengan label blog competition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog competition. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Januari 2019

Sang Pemimpin


Tak gagah layaknya Gatotkaca
Sederhana begitulah sosokmu
Gesit dan cepat tanggap melayani rakyat
Senyuman merakyatmu selalu terbit
Menggambarkan sebuah harapan tentang negeri ini
Memimpin dengan hati
Melangkah dengan pasti
Membenahi bangsa, memantapkan jati diri
Meski jalanmu terjal penuh onak berduri, 
Kau tetap lantang, menunaikan tanggung jawab
Bukan janji tapi kerja nyata
Kau jejakkan kakimu di setiap pelosok negeri, membenahinya
Menghilangkan jurang pemisah
Kau buka jalan untuk pemerataan, mengangkat masyarakat, merangkulnya

Amukan badai berita palsu menerpamu
Kau tetap berdiri dan membuka pintu kebenaran
Melangkah pasti bersama rakyat
Membuka jalan untuk kemajuan negara
Kau presidenku, Pak Jokowi


#BaladJokowiMaruf  #BJM #JabarJokowi #JokowiDeui #01JokowiLagi #01IndonesiaMaju

baladjokowi.id

Rabu, 12 November 2014

Pembelajaran Bahasa Inggris di Era Digital


Bahasa Inggris mungkin adalah salah satu pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa di sekolah. Tak dipungkiri lagi penguasaan terhadap bahasa Inggris sangatlah penting, terutama di era modern dan digital ini. Arus informasi  begitu kuat mengalir terutama dalam bentuk digital yang bisa diakses melalui internet. Banyak  informasi tersebut yang disampaikan menggunakan bahasa Inggris. Lalu bagaimana pembelajaran bahasa Inggris di era digital yang menyenangkan dan tak membosankan? Berikut akan diuraikan berdasarkan pengalaman mengajar di lembaga kursus bahasa Inggris dan juga gagasan yang bisa diterapkan.
 
Laboratorium bahasa modern (Sumber: Wikipedia)

Menggunakan laboratorium bahasa, saat ini laboratorium bahasa sudah dilengkapi dengan perangkat multimedia sehingga bisa digunakan untuk kegiatan lain selain listening yaitu watching movie, ya nonton film pastilah sudah tidak asing bagi banyak orang. Menonton film juga bisa diterapkan dalam pembelajaran bahasa Inggris karena hal ini menyenangkan dan juga tidak membosankan. Banyak skills yang bisa dilatih dari menonton film yaitu; mendengarkan dan berbicara. Siswa dikondisikan agar terbiasa mendengar tuturan native speaker, setelah itu siswa bisa diminta untuk menceritakan kembali tentang apa yang mereka dengar dan lihat. Siswa bisa menonton film yang diputar langsung di komputer yang dihadapi oleh siswa satu-satu.

Selain menggunakan film dalam bentuk file yang telah disimpan di dalam komputer master yang dikendalikan oleh guru, bisa juga menggunakan jaringan wifi dan mencari video-video pendek di youtube yang bisa diaplikasikan dalam pembelajaran. Untuk hal ini maka, guru perlu untuk memilah video yang sekiranya cocok. Selain  itu banyak juga vieo-video pembelajaran bahasa Inggris yang bisa digunakan dalam kelas agar tidak monoton. Banyak video conversation dalam berbagai topik yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan oleh guru. Lagi-lagi siswa dikondisikan untuk terbiasa dengan tuturan native speaker, karena bahasa adalah kebiasaan. Semakin terbiasa dipakai dan diolah akan semakin bagus. 

Kegiatan lain yang bisa dilakukan di laboratorium bahasa multimedia adalah mendengarkan lagu. Sederhana tetapi sangat membantu siswa dalam skills tertentu seperti pronounciation, listening dan tentu saja speaking. Siswa bisa diminta untuk mengisi lirik yang telah dikosongkan di layar komputer dan kemudian bisa menjawabnya. Setelah itu siswa bisa juga diminta untuk mengucapkan kata-kata yang didengar dalam lagu. Guru sebaiknya memperdengarkan lagu-lagu dengan pengucapan yang jelas dan tentu saja bernada slow. Setelah itu guru bisa memintanya untuk menceritakan tentang apa yang telah siswa dengar, tentang apa isi lagu tersebut.

Lalu bagaimana dengan skill writing dan reading? Skills tersebut bisa juga diajarkan dengan perangkat teknologi informasi. Misalnya dengan cara presentasi di depan kelas tentang tulisan siswa dalam hal ini bisa saja hasil tulisan siswa dalam bentuk teks berbagai genre. Kemudian ditampilkan di layar proyektor dan dibedah bagian-bagian teks dari hasil pekerjaan siswa. Pada sesi ini reading skill pun juga digunakan saat membacakan apa yang ada di layar proyektor. Banyak juga contoh-contoh teks bahasa Inggris yang bisa didapatkan dari internet yang bisa digunakan dalam kelas reading, hal ini sangat bagus karena menggunakan teks asli buatan native speaker (penutur asli).

Sosial media juag bisa digunakan untuk meng-upload tulisan siswa, katakanlah seperti facebook dengan fitur catatan, dimana siswa bisa menulis tugas mereka di catatan facebook.  kemudian menandai akun guru agar bisa dilihat dan dikoreksi. Hal ini juga untuk melatih rasa percaya diri siswa untuk berlatih menulis dalam bahasa Inggris.

Minta siswa untuk berteman dengan orang asing yang memakai bahasa Inggris dalam berkomunikasi di facebook. Dalam hal ini, siswa bisa mendapatkan materi real life English (bahasa Inggris nyata), yang tentu saja akan memuat bahasa slang dan tentu saja akan memperkaya penguasaan kosakata. Gunakan twitter juga karena banyak akun pembelajaran bahasa Inggris yang tentu saja sangat up to date, misalnya akun @EnglishTips4U.

Metode yang bisa digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris dengan multimedia adalah dengan menggunakan berbagai media yang sebagian telah disebutkan sebelumnya. Beberapa media yang bisa digunakan antara lain; printed text (teks cetak), video, film, radio, komputer dan juga internet. Pada dasarnya banyak sekali sumber-sumber pembelajaran bahasa Inggris yang bisa didapatkan dari internet, tentu saja guru harus memilah sumber tersebut agar sesuai dengan sasaran dari pembelajarannya.

Jadi ketika ingin membuat pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan, berkreasilah dan gunakan internet dan juga perangkat teknologi informasi dalam kelas bahasa Inggris.

Senin, 13 Oktober 2014

Yuk, Ber-selfie dengan Buku Kita Sendiri!

Siapa sih yang nggak kenal sama kata selfie, pasti generasi muda saat ini sudah sangat akrab dengan kata itu. Oke, buat yang belum tahu apa itu selfie, bakal saya kasih tahu kok, jadi menurut Kamus Oxford selfie adalah sebuah foto yang diambil  sendiri, secara khusus menggunakan telpon cerdas atau webcam dan dibagikan melalui sosial media. Ya, selfie bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja—mau di tempat wisata, di tempat tidur, mall, atau kamar mandi mungkin, eh? Jadi sudah kah kalian ber-selfie hari  ini? Saya kira sudah cukup bahas soal selfie-nya, kita ke point-nya yuk!! Ber-selfie dengan buku kita sendiri, pernah kepikiran ngelakuin hal tersebut? Mungkin kita sering menemukan penulis-penulis narsis yang sedang ber- selfie bersama anak mereka a.k.a buku mereka, entah di twitter, facebook, instagram maupun blog. Pasti kalian ngomong ke diri kalian sendiri,” Keren juga ya mereka bisa narsis-narsisan sama karyanya. Aku juga pengen deh.” Ya, kalian semua juga bisa seperti mereka! Terus gimana caranya? Tentu saja dengan menulis dan menerbitkan buku kalian sendiri.
Saya dan buku antologi saya yang terbit indie

Langkah pertama adalah kalian harus mulai menulis. Menulis dan menulis adalah cara paling ampuh kalau kalian bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Tanpa menulis mimpi itu hanya akan tetap menjadi mimpi. Manusia sebagai makhluk sosial pastinya selalu berhubungan dengan manusia lainnya, setiap mereka bertemu pasti ada kisah yang akan dibagi bersama karena manusia pada hakikatnya adalah seorang pencerita dan itu sudah takdirnya. Karena kita ingin menjadi penulis maka kita harus menuliskan kisah-kisah tersebut supaya membedakan kita dengan yang lainnya. Kita bisa memulai dengan menulis diary sebagai latihan, setelah itu kita bisa mencoba untuk membuat cerpen atau flashfiction yang lebih pendek dari cerpen. Terus asah kemampuan kalian dengan menulis sebanyak-banyaknya dan cobalah untuk mengikuti kompetisi menulis yang banyak diadakan oleh penerbit, baik penerbit mayor maupun penerbit indie. Kenapa kita harus ikut kompetisi? Jawabannya adalah untuk melatih mental kita agar siap menerima kekalahan dan kemenangan, ketika kalah berarti kualitas tulisan kita harus ditingkatkan lagi dan kalau menang kita harus terus menghasilkan tulisan-tulisan yang bermutu. Belum PD dengan mengikuti lomba? Ada cara lain yaitu memajang karya kita di dalam catatan facebook atau blog dan tentu saja membagikannya dengan teman-teman kita. Lihat apa yang terjadi, adakah komentar yang tertinggal di tulisan kita? Pasti ada walaupun cuma satu komentar. Dari komentar-komentar yang didapat kita bisa memperbaiki kalau perlu dan tentu saja meningkatkan kualitas tulisan kita. Oke,ada yang ngomong dalam hati, “Aku nggak bisa nulis nggak tahu caranya nulis itu gimana?” Simpel, silakan gabung di grup kepenulisan di facebook yang sekarang ini sangat banyak di sana kalian bisa belajar bersama tentang kepenulisan itu sendiri. Pada intinya untuk meraih mimpi menjadi penulis kita harus menulis dan menulis dimulai dari yang pendek kemudian menuju yang lebih panjang seperti novel. Semuanya bertahap. Jangan lupa untuk memperbanyak buku yang kita baca karena penulis yang baik adalah seorang pembaca juga. Dengan membaca kita bisa mendapatkan pengetahuan yang bisa diaplikasikan pada tulisan kita. Penulis harus juga memiliki attitude yang baik dengan penerbit dan juga pembaca. Yang sangat-sangat harus dihindari adalah plagiasi. Ini wajib hukumnya bagi penulis.
Langkah kedua adalah dengan menerbitkan karya kita, kenapa harus diterbitkan?  Salah satunya adalah agar bisa dapat uang. Selain itu juga karena seperti kata Pak Edi Akhiles, menulis itu terancam keren. Jadi dengan menulis dan menerbitkan buku, kita bisa dapat uang dan tentu saja fans. Memilih penerbit itu adalah hal yang paling krusial, karena pastinya kita mau karya kita mendapatkan treatment yang sebaik-baiknya tentu saja juga dengan melihat masa depan karya kita. Kita bisa menerbitkan karya kita ke penerbit mayor atau penerbit indie/self publishing. Penerbit mayor adalah penerbit yang akan mengurus segala keperluan terkait naskah kita dari pra cetak sampai pemasaran di toko buku. Jadi kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk menerbitkan buku, kita akan dibayar melalui royalti atau beli putus. Menembus penerbit mayor itu tidaklah mudah karena lamanya proses seleksi dan juga selera penerbit yang berbeda dan juga penerbit melihat pangsa pasar. Akan banyak keuntungan yang didapat ketika menerbitkan di penerbit mayor, karena pemasaran dan penggarapan yang maksimal. Untuk yang tidak punya banyak waktu bisa juga menerbitkan buku di penerbit indie/self publishing. Di penerbit ini kita harus mengeluarkan uang agar bisa terbit, tapi ada juga yang menawarkan gratis asal kita menangani proses pra cetaknya (desain cover, lay out, editing, proof reading). Ada juga penerbit indie yang mendistribusikan bukunya ke toko buku tentu saja dengan biaya yang lebih mahal dari yang hanya dijual melalui online. Penerbit indie lumayan mudah dalam menerbitkan buku, asal saja tidak melanggar hak cipta dan menyinggung SARA. Dan tentu saja tidak ada proses seleksi. Sekarang ini banyak sekali penerbit indie, misalnya Rasibook
Dalam memilih penerbit indie kita harus mempertimbangkan fasilitas  yang diberikan dan tentu saja harga harus sesuai dengan pelayanan yang diberikan. Di era digital ini sebaiknya kita memilih penerbit indie yang juga menjual buku mereka ke dalam bentuk buku digital seperti yang diberikan oleh Rasibook. Bahkan Rasibook juga menawarkan paket gratis terbit. Pasti kalian penasaran tentangRasibook, silahkan di-klik tautan tadi ya, hehehehee. Ketika menerbitkan buku secara indie kita harus gencar-gencar berpromosi agar banyak buku yang terjual, bisa promosi di sosial media dan blog, giveaway juga perlu dicoba kita bisa menggunakan buku tanda terbit yang diberikan oleh penerbit indie (tidak semua penerbit indie memberikannya.) Mintalah si pemenang give away untuk menulis resensinya dan post di blog atau facebook. Membuat trailer buku juga layak dicoba dan unggah ke youtube. Di Rasibook kalian akan mendapatkan buku tanda terbit dan juga royalti 15% ini lebih tinggi dari kebanyakan yang hanya 10%. Jadi  nerbitin buku di indie juga bisa dapat royalti. Penerbit indie seperti Rasibook melakukan promosi di rasibook.com, fanspage dan juga twitter mereka. Kita juga bisa membeli buku kita sendiri dalam jumlah tertentu kemudian jual kembali kepada teman-teman kita, karena pasti ada yang nggak mau mengeluarkan uang lagi untuk ongkos kirim. Banyak juga penulis terkenal yang mengawali dengan menerbitkan buku di self publishing.

Jadi, kalian sudah bersiap untuk ber-selfie ria dengan buku karya sendiri? Ayo, segera wujudkan mimpi kalian! Tunggu apalagi? Karena saat ini menerbitkan buku itu sangat mudah. Udah ditunggu Rasibook tuh!

Selasa, 16 September 2014

Surat untuk Jokowi


Kepada Yth.
Bapak Jokowi
di tempat

Pertama-tama saya ucapkan selamat atas terpilihnya Bapak sebagai Presiden Republik Indonesia yang ketujuh dan semoga selama dalam masa kepemimpinan Bapak akan terjadi perubahan yang radikal terutama dalam hal-hal positif di negeri ini dan membuat negeri ini lebih baik dan berjaya.
Dalam surat ini, saya ingin menuliskan beberapa hal yang selama ini mengganjal dalam benak saya terutama soal pemilihan umum atau pemilu. Sebagai seorang anak muda saya memiliki masalah yang sangat sepele ketika akan ke TPS, yaitu tidak adanya teman untuk ke sana, sepertinya hal ini tidak hanya saya rasakan pasti di luar sana banyak juga anak muda yang merasa seperti itu. Mereka akan merasa aneh ketika berada di tempat yang hanya ada orang tua saja. Jadi dalam hal ini masih banyak anak muda yang belum sadar untuk menggunakan hak pilihnya.  Sebagai warga negara yang telah memiliki hak pilih, terkadang saya merasa bahwa saya sebaiknya tidak usah memilih saja dalam pemilu, baik pilpres, pilkada, pileg maupun pemilihan lurah juga. Saya berpikir  bahwa ketika saya memilih calon-calon tersebut setelah mereka terpilih pun mereka akan melupakan apa yang telah mereka janjikan saat kampanye dan juga mereka hanya akan berjuang demi kesejahteraan dirinya sendiri, terlebih akhir-akhir ini banyak sekali pejabat publik yang terlibat kasus korupsi. Selain rasa tidak percaya saya terhadap para calon dalam pemilu, yang membuat saya cenderung golput adalah karena saya tidak mengenal para calon yang tengah berlaga. Mereka terlalu ‘asing’. Bahkan dalam pileg DPRD tingkat kabupaten saja, caleg yang berasal dari kecamatan tempat tinggal saya pun saya tak kenal. Penyebabnya adalah para caleg tersebut kurang sosialisasi dan sebelumnya tidak pernah terlibat dalam hal-hal dalam kemasyarakatan. Bisa dikatakan bahwa mereka hanya caleg ‘tiban’ yang mendompleng nama besar kerabat mereka dan tentu saja hanya bermodal nekat dan dompet yang tebal. Mereka terlalu menjaga jarak dengan calon pemilih, dan hanya mengandalkan bagi-bagi stiker yang sama sekali tidak menjawab rasa penasaran  soal visi dan misi mereka.
Selain calon yang asing, hal yang sangat mengganggu ketika musim pemilu adalah politik uang. Hal ini terjadi dari mulai pemilihan lurah, ya pemilu dalam lingkup paling kecil saja sudah pakai beli suara dan itu sudah menjadi sesuatu yag lumrah dalam masyarakat. Hal itu berlanjut dan mengurita hingga ke pilkada dan juga pileg.  Walaupun tidak semua calon dalam pilkada atau pileg melakukan hal tersebut dan saya salut akan pilihan mereka untuk mengambil jalan yang benar. Kebanyakan orang tidak akan memilih apabila tidak diberi uang, penyebabnya adalah kurangnya rasa percaya pada calon. Jadi orang-orang yang terpilih adalah orang-orang yang tidak kompeten dan hanya berpikir untuk bagaimana caranya bisa kembali modalnya. Sangat miris dan hal itu membuat saya jengah dengan yang namanya pemilu.  Sebagai orang biasa tentu saja saya menerima pemberian uang tersebut, tapi soal suara itu adalah hak prerogative saya untuk memilihnya atau  golput sekalian sehingga tidak ada calon yang dirugikan karena tidak saya pilih.  Untuk caleg yang melakukan politik uang sudah seharusnya diberi hukuman yang sangat berat yang bisa member efek jera dan tentu saja tidak mengangkatnya sebagai anggota dewan.
Pemilu harus segera dibersihkan dari politik uang agar terpilih orang-orang yang kompeten, dan besar harapan saya itu akan diberantas oleh Bapak. Apapun itu tindak kecurangan dalam pemilu sangatlah tidak baik dalam kehidupan berpolitik. Soal pilpres tahun ini, menurut saya adalah pilpres yang sangat lebay, terkait dengan pihak yang tidak menerima kekalahannya, dan juga kecurangan yang dilakukan termasuk kampanye hitam yang sangat tidak masuk akal. Layar kaca selalu dihiasi berita-berita soal kecurangan saat pilpres, hal ini sangatlah tidak baik untuk dicontoh oleh para siswa yang juga sudah belajar berpolitik dan berdemokrasi dalam pemilihan OSIS. Mereka bisa saja berbuat curang karena terpengaruh dengan pemberitaan dan apabila itu terjadi hancurlah generasi muda Indonesia. Kemudian tentang sistem pemilihan yang kesannya terlalu ribet karena ketika orang yang memiliki hak pilih tapi tidak berada di tempat tinggalnya kesulitan untuk memilih, padahal mereka ingin memilih. Sebaiknya dalam pemilu sistem pemilihannya dibuat yang sederhana dan mudah diakses dan juga terkomputerisasi seperti sistem pendaftaran CPNS 2014 yang menggunakan data berdasarkan KTP.
Selain hal yang membuat saya jengah dengan pemilu ada juga hal yang membuat saya antusias dalam pemilu antara lain dengan adanya calon-calon yang sudah memiliki rekam jejak yang baik dan kelihatan akan membawa kemajuan. Dan juga karena munculnya kesadaran dalam diri untuk turut serta dalam mensukseskan pemilu dan agar aspirasi saya bisa terakomodir. Tentu juga agar bisa turut bangga karena telah memilih orang yang tepat. Untuk tahun 2014 ini perubahan telah terjadi dengan banyaknya anak muda yang telah secara sukarela menjadi relawan capres tertentu dan tentunya juga menggunakan hak pilih mereka. Hal ini mungkin dikarenakan karena mereka telah mendapatkan calon yang seperti mereka inginkan.
Demikianlah surat pendek ini saya tulis untuk Bapak Jokowi. Terima kasih untuk perhatiannya dan semoga pemilu Indonesia dikemudian hari akan terbebas dari segala bentuk macam kecurangan.

*Surat ini diikutsertakan dalam lomba menulis surat "Dari Anak Muda untuk Jokowi: Soal Pemilu yang Bersih."


Minggu, 23 Februari 2014

[ Mozaik Blog Competition 2014] Kenapa Mau Jadi Penulis???


[ Mozaik Blog Competition 2014] Kenapa Mau Jadi Penulis???

   Event Mozaik Blog Competition sponsoredMozaik Blog Competition by beon.co.id



Ketika ada yang bertanya kepadaku,”Kenapa kau ingin jadi penulis?”
Well, jawabannya simple sih menurutku, tapi gak tahu juga menurut orang lain. Karena  ketika gajah mati meninggalkan gading, maka ketika aku mati nanti aku akan meninggalkan nama dan karyaku. Sedikit berlebihan ya? Tapi biasa ajalah namanya aja calon penulis, kadang dibutuhkan ke-alay-an agar bisa menciptakan karya yang bagus. Dan yang pasti harus beda dari yang lain, gak mainstream gitu.
Ada alasan lain juga ketika memutuskan untuk menjadi penulis, pertama karena dengan menulis, khususnya menulis fiksi, saya juga bisa mengekspresikan pikiran-pikiran saya, semua unek-unek yang tak bisa saya tumpahkan ke dalam dunia nyata, karena tak ada tempat sampahnya. Yang kedua dengan menulis juga saya seakan bisa memasuki dunia yang benar-benar berbeda, dan mau tidak mau juga harus banyak melakukan riset untuk tulisan fiksi terutama cerpen yang mengambil latar luar negeri, juga tentang tokoh yang memiliki karakteristik dan pekerjaan yang belum pernah saya ketahui. Jadi dengan menjadi penulis saya juga bisa menambah pengetahuan saya, karena meskipun menulis fiksi saya harus bisa menyajikan sesuatu yang nyata. Alasan ketiga dengan menulis juga bisa menyalurkan alter ego saya.  Alasan keempat adalah dengan menulis saya juga bisa mengabadikan kenangan, karena saya yakin suatu saat nanti ketika saya menua memori saya juga pasti akan berkurang untuk mengingat kenangan-kenagan di masa lalu, dan ini saya aplikasikan dalam menulis semacam buku harian yang saya mulai sejak SMP sampai awal kelas satu SMA. Kalau sekarang sih lebih sering menulis status di facebook dan kicauan di twitter, dan juga sedang bersemangat untuk blogging meski saya tahu mungkin gak ada yang baca blog saya hehehe….
Kemudian kalau ada yang tanya sejak kapan ingin jadi penulis? Sejak kecil, sejak saya mulai bisa merasakan bagaimana asyiknya membaca, dan menonton kartun. Pernah suatu kali karena saya menonton sebuah kartun saya berniat untuk menulis sebuah buku dongeng, namun urung dilakukan karena saya males. Sejak duduk di bangku SMP, saya suka menulis puisi-puisi yang tak tahu kenapa disukai oleh teman-teman cewek di kelasku. Semenjak duduk di bangku SMA, saya mulai mencoba menulis cerpen meski hanya menjadi konsumsi pribadi. Saya juga mencoba menulis novel meski akhirnya hanya berakhir sebagai sebuah coretan tak terselesaikan di buku tulis dan cuma rancangan-rancangan yang tercecer di kertas-kertas tak terpakai yang entah sekarang di mana letaknya.
Saya mulai aktif menulis lagi ketika saya membaca sebuah novel, dan saya tahu kalau saya tahu saya bisa menulis cerita seperti itu. Maka sejak itu pun saya mulai mengikuti kompetisi-kompetisi menulis cerpen meski belum pernah masuk menjadi kontributor di antologi cerpen penerbit mayor. Saya tahu bahwa ini belum saatnya, saya harus masih terus memperbaiki tulisan saya dan harus terus menerus menulis untuk melatih kemampuan menulis saya.
Membaca dan menulis itu sama asyiknya. Kalau menurut saya itu satu paket yang tak bisa dipisahkan kalau mau jadi penulis hebat. Berkali-kali saya mengirim cerpen untuk lomba di penerbit mayor atau indie tapi belum juga ada yang masuk. Saya tidak menyerah saya tetap menulis meski hanya untuk konsumsi pribadi, meski akhirnya hanya menjadi cerpen yang tak terselesaikan.
Perjuangan itu terbalas ketika saya masuk dalam dua antologi cerpen di penerbit indie. Awalnya saya tak pernah menyangka, tapi saya sangat bersyukur atas hal itu meski itu bukanlah pencapaian yang besar karena target saya adalah penerbit mayor. Sejak itu saya mulai aktif nyari informasi di facebook maupun twitter info-info sekitar lomba menulis.
Hal yang paling mengejutkan saya adalah ketika saya berhasil masuk #KampusFiksi, sebuah pelatihan menulis dua hari di Jogjakarta yang diadakan oleh Penerbit Divapress. Padahal saat itu saya hanya iseng untuk mengirimkan cerpen sebagai salah satu syarat penyaringannya, bersaing dengan ratusan orang yang juga mengirimkan cerpen mereka. Saya berpikir bahwa ini adalah kesempatan untuk menimba ilmu kepenulisan dengan pakarnya. Saya sangat berterima kasih karena bisa bertemu dengan orang-orang hebat dalam sebuah industri perbukuan dan juga bertemu dengan teman-teman baru yang pastinya berbeda latar belakang tapi memiliki tujuan sama yaitu menjadi penulis.
Kemudian kalau ada yang bertanya siapa yang menginspirasi saya untuk jadi penulis? Saya aja sulit untuk menjawabnya, karena tidak ada orang-orang tertentu yang menginspirasi. Yang pasti penulis-penulis yang udah nelurin karya mereka di toko buku yang selalu menimbulkan tanya, kapan novelmu majang di rak toko buku?
Yang pasti saya selalu ingat kata-kata Pak Edi Akhiles kalau menjadi penulis itu terancam keren. Dengan menjadi penulis pun bisa menambah jumlah follower twitter juga lol
Cukup sekianlah coretan saya tentang kenapa saya ingin jadi penulis, terima kasih sudah membaca… God bless you!!!